Puisi
Persembahan di akhir tahun
SEKEPING MIMPI ANAK PETANI
####################################################################################
Persembahan di akhir tahun
SEKEPING MIMPI ANAK PETANI
Ungkapan hati seorang ayah
(Sikarang Batukapur, makhluk dungu penggembala angin)
Ada
yg tak mau lepas dari ingatan,
kendati jasad kian rapuh.
Mengenang
banyak jalan licin yang kau tempuh..
Kau
masih ingat……?
Kemarahanku
yang memabibuta kala itu.
Sepotong
ranting tak banyak daun, kuayun berulang
mencambuk tubuhmu yang kurus.
Hanya
tangis penyesalan yang bicara
Seolah
kau tahu,
Kekesalan dan kekalutan hadir dari bayanganmu,
yang
pulang petang dalam ancaman petir pinggiran sungai.
Kau
terbawa bujukan nakal teman-temanmu.
Sedangkan
kelelahan lahir batin telah menderaku sepanjang hari.
Namun……..
Ada
lagi yang membuatku merasa bersalah,
Ketika
sepatu dan tas sekolahmu robek dimakan usia,
kamu
tetap menyembunyikan kesedihan dibalik senyum tipis.
tak
meminta ganti dengan yang lain.
Hanya
naluri seorang ibu yang fasih membaca gelagat,
tak
boleh kamu resah.
Maka
dengan sedikit uang pinjaman,
dibelikan
kau tas dan sepatu termurah di pasar pinggiran.
Mana
mungkin ada yang suka, selain kamu yang tak
boleh memilih.
Tahukan
kau…….?
Sepeda
usangmu masih patuh menunggumu di sini.
Kendati
diam, namun tak kuasa menahan bayang memori kesetiaannya menemanimu ke sekolah
setiap hari.
Diapun
bersaksi,
Di
sana,
diantara
catatan hitam sang bendahara,
ada
kamu yang suka terlambat bayar sekolah, karna
belum ada yang kuberikan.
Maafkanlah……
Maka
kupintakan ampunannya, agar kau diijinkan ikut ulangan ataupun ujian,
dengan
janji usai panen semua hutang terlunasi.
Tahukah
kamu……?
Ada
lagi yang tetap jelas dalam ingatan.
Ketika
batas akhir masa sekolahmu telah menjelang
Kau
berniat beradu nasib di Jakarta,
andai
yang kuasa tak mengabulkan asamu,
untuk
kuliah tanpa beaya.
Aku
hanya sanggup mengangguk cemas.
Tapi
apa yang terjadi…..,?
Rupanya
sekeping mimpi anak petani tak terpandang hina di mata illahi.
Pancaran
anugerah-Nya diturunkan ke bumi,
untuk
kau miliki dan syukuri.
Tak
boleh disia-siakan,
dan
mesti dipertahankan sebagai pesawat sakti
pembawamu menggapai bintang.
Itu
amanah pebawa berkah jangan disesatkan.
Ingatlah….!
Do’a
seorang bunda yang sengaja melaparkan
diri setiap senin dan kamis, agar angannya dibaca oleh-Nya.
Sedangkan
si bapak pincang yang terjemur di pematang tak jemu bemunajat diterik mentari
menyengat.
Mereka
sabar menunggu,
kapan kau pinta mendampingimu memakai toga.
Pati Utara, Penghujung
Desember 2015.
Unknown





