Laman

Quote

Quote

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Quote

Search

top social

Entertainment News

Sport News

Sikarang Batukapur

Sikarang Batukapur
Allah SWT secara adil dan bijak telah memberikan kelebhan maupun kekurangan pada umatnya. Siapapun dan dari negara manapun pasti memiliki sifat itu. Maka dalam beraktivitas menemukan atau menciptakan sesuatu, jika bangsa lain bisa maka kitapun bisa,jika bagsa lain mampu kitapun mampu. Percayalah dalil itu. Oleh sebab itu marilah kita berkarya nyata yang positip demi masa depan dan kejayaan bangsa dan negara kita.

OUT BOND

Facebook

Ads

BTemplates.com

Featured Posts

Random Posts

Recent Posts

Selamat Datang di Blog Yusuf TM, S.Pd

Popular Posts

Bahan Renungan

Guru Masa Silam

Dikisahkan kembali oleh :
Sikarang Batukapur (Makhluk dungu penggembala angin)


Kali ini aku mau bercerita tentang kondisi perekonomian seorang guru Sekolah dasar. Tak mengada-ada, dan bukan fiksi karanganku, tapi memang terlibat selaku saksi hidup pada saat itu.
Namanya bapak KS (initial). Di masa jepang menjarah negeri ini, beliau tergabung dalam pasukan Tentara Pelajar di Kawasan Semarang. Nyawanyapun nyaris raib ketika terjadi kontak senjata dengan pasukan Dainipon di Peterongan, untung Allah SWT masih memberi kesempatan untuk hidup, walaupun harus bersembunyi di genangan air busuk selokan pinggiran desa.
Pasca kemerdekaan, belau memilih menjadi guru Sekolah Rakyat (SR) dengan bekal ijasah SGA (Sekolah Guru Atas) di Kawasan Semarang pula. Dua tahun kemudian mengajukan pindah mengajar di Pati, karena permintaan istrinya, putri sulung seorang polisi yang berdomisili di Pati.
Lima tahun setelah G 30 S PKI, oleh Pemerintah pak KS dimutasi tugasnya disebuah SD daerah pedesaan Wilayah Pati utara. Namun karena saat itu belum ada perumahan Dinas, maka pak KS membuat rumah yang teramat sangat sederhana (rangka dan dinding dari bambu beratap rumbia, berlantai tanah). Jarak antara rumah dengan SD tempat mengajar sekitar 10 KM.
Pak KS tak punya alat transportasi, maka kesehariannya dengan berjalan kaki menempuh jalan pintas menyeberangi sungai dan jalan-jalan terjal di sepanjang beberapa desa agar panjang jalan bisa diperpendek.
Ketika itu masih jarang kendaraan umum angkutan orang. Tapi itu bukan alasan pak KS mengapa rela berjalan kaki menelusuri tebing dan sungai. Siapapun menempuh jarak yang cukup jauh tentu saja memilih naik kendaraan. Namun lantaran gaji yang diperoleh sangat rendah. Tak ada tunjangan neko-neko, apalagi yang namanya gaji ke-13. Gaji cukup untuk jatah makan keluarga sebulan saja sudah untung, maka dengan disertai renungan nasib sepanjang jalan, pak KS tetap tabah menjalaninya.
Pak KS mempunyai beberapa anak, beban perekonomian dipikulnya sendirian, maka disaat hari libur , beliau berusaha mengkais rejeki harapan dengan bekerja sebagai penjaring burung perkutut. Hasilnyapun tak seberapa, sehingga harus mengihlaskan beberapa anaknya memprofesikan diri sebagai buruh, agar tetap bisa sekolah kendatipun harus terputus-putus.
Pak KS adalah sosok orang yang berhati lembut, berperangai ramah, berprilaku santun, da berkemauan keras untuk mendidik dan meneladani anak bangsa, tanpa pamprih apapun, termasuk mengharap gelar sebagai “Palawan Tanpa Tanda Jasa”. Mimpipun tidak, karena sebutan itu lahir dijaman yang berbeda.
Sekarang ini hanya ruh pak KS yang bisa berkata, “ENGKAUKAH PAHLAWAN TANPA TANDA JASA ITU ?”.
Selamat Jalan pak KS, perkenankan walau hanya anakmu saja yang menyanjungmu.

                                                                                  Pati Utara, 22 Agustus 2013



















































































33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori dengan judul Bahan Renungan. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL https://sikarang-0.blogspot.com/2016/01/bahan-renungan_10.html. Terima kasih!
Ditulis oleh: Unknown - Minggu, 10 Januari 2016

Belum ada komentar untuk "Bahan Renungan"

Posting Komentar