Bahan Renungan :
Kilas kupasan Sikarang Batukapur makhluk dungu penggembala angin
Menyimak judul tulisan ini, yaitu KKM yang merupakan kependekan dari KOMEDI KIBULAN MARTABAT, tak hayal bila ada anggapan bahwa yang dibicarakan mungkin sebuah lelucon atau lawakan seputar martabat manusia. Barangkali ada sebuah martabat manusia yang dipandang lucu dalam pandangan orang lain, atau bahkan menjadikan orang terpingkal-pingkal jika mengetahuinya. Seperti cerita tentang Saridin (tokoh sakti yang lugu) ketika mendapatkan vonis penjara oleh Pak Bupati Pati, karena kasus pembunuhan terhadap Branjung (iparnya). Karena Saridin tak merasa bersalah (dia mengaku membunuh harimau yang setiap malam mencuri buah duriannya), maka dia tak mau dipenjara. Tapi pak Bupati tak kurang akal. Dengan memanfaatkan kelemahan Saridin dalam hal sikap leksikalnya (penerapan sikap sesuai perkataan), beliau bersabda kepada Saridin,
“Karena besarnya jasamu telah membunuh hewan pencuri durian, maka kamu tak angkat martabatmu sebagai penghuni rumah gedung, yang dijaga ketat oleh prajuritku, Saridin”. Demikian tipu muslihat pak Kanjeng membelenggu Saridin. Nah, penempatan martabat dalam certa itu, siapapun akan mengomentari sebagai kibulan saja, kan ? Dan Saridin terkesan dan terperan sebagai tokoh ‘oon’ atau dungu.
Lain lagi jika KKM itu diberi kepanjangan “ Kreteria Ketuntasan Minimal” keberhasilan belajar siswa. Wah, yang ini sebenarnya bukan perkara biasa, karena KKM mempunyai peran setrategis , diantaranya :
(1) Sebagai Batasan minimal syarat keberhasilan.
(2) Menjadi Parameter kualitas penguasaan materi .
(3) Sebagai Prasasti ketuntasan dalam pengkajian materi.
(4) Pemberi jenjang martabat / harga diri.
Karena perannya yang sangat vital itulah, sehingga KKM yang umumnya ditulis dalam bentuk angka lantas disimpangkan maknanya. Angka KKM yang besar dipahami sebagai kualitas yang besar pula. Dengan demikian suatu lembaga pendidikan akan merasa terhormat dengan mematok KKM sebesar besarnya. Memang siapapun, sekolah manapun, Negara manapun, Presiden siapapun, menghendaki kualitas pendidikan yang maksimal, karena itu martabat bangsa yang bakal dilihat mata dunia. Tapi yang menggelikan. Apakah dengan menerima kurikulum yang sama, semua siswa harus mempunyai kemampuan dan kualitas yang sama pula. Manusia itu tak seperti tanah liat, yang bakal manut akan dibentuk sesuai selera pembentuknya. Manusia adalah barang misterius yang mempuyai kekurangan dan kelebihan. Maka apabila dipercayai kalau sejumlah besar manusia bisa memenuhi tuntutan dalam KKM, pastilah ada sebagian (walau tidak boleh dikatakan mayoritas) yang tidak bisa memenuhi tuntutan itu. Yang tersebut terakhir inilah, jika tetap memaksakan patokan angka besar untuk KKM, seharusnya kualitas kurikulumnya yang diperkecil. Namun, kalau dengan standar kurikulum yang sama, dan memaksakan diri mematok KKM yang tak mau kalah besarnya dengan kelompok manusia yang mampu memenuhi tuntutan itu, maka KKM yang digelar bukan lagi sebagai “Kreteria Ketuntasan Minimal”, namun menjadi “Komedi Kibulan Martabat”.
Bukan kebijakan baru lagi. Dalam kenyataan, sekarang ini hampir semua sekolah memandang tabu dengan mematok KKM yang rendah. Apapun pandangan public, mereka lebih enjoi pakai Komedi Kibulan Martabat, biarpun terpandang seperti memakai baju yang kedodoran. Mengapa budaya ‘malu’ harus ditebus dengan cara’menipu’. Astaqfirullahal adzim.
Wassalamu’alaikum War Wab.
Pati Utara, Awal Maret 2016
oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo
Unknown
KKM
